NAMA : RISMAYANTI
NIM : 2020203886208071
KELAS : PAI33

PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM MASA DINASTI BANI UMMAYYAH


PENDAHULUAN
Islam adalah agama yang menempatkan pendidikan dalam posisi yang sangat vital. Hal ini ditandai dengan lima ayat pertama dalam surat al-Alaq, yang diwahyukan oleh Allah kepada Nabi Muhammad dimulai dengan perintah untuk membaca (iqra’). Di samping itu, banyak ayat al-Quran yang kandungannya berkaitan dengan ilmu.
Sejarah pendidikan Islam pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dari sejarah Islam. Karena itu, periodisasi sejarah pendidikan Islam dapat dikatakan sama dengan periodisasi dalam sejarah Islam itu sendiri. Harun Nasution1 membagi perjalanan sejarah Islam secara umum ke dalam tiga bagian besar yaitu Periode klasik, yang dimulai (650-1250 M) yang digambarkan sebagai era umat Islam mencapai prestasi-prestasi (puncak kejayaan). Periode pertengahan dimulai sejak runtuhnya Dinasti Abbasiyah (1250- 1800 M), dengan ciri-ciri kekuasaan politik terpecah-pecah dan saling bermusuhan, atau dikenal dengan masa stagnasi pemikiran Islam. Dan periode modern (1800 sampai sekarang) yang dikenal dengan era kebangkitan Islam. Sehubungan dengan periodisasi tersebut, tulisan ini bermaksud menguraikan bagaimana pendidikan Islam yang berlangsung pada masa dinasti Umayyah.
Sejarah Berdirinya Dinasti Umayyah
Dinasti Umayyah mengambil nama keturunan dari Umayah ibn Abdi Syams ibn Abdi Manaf.2 Kekuasaan Bani Umayyah berumur kurang lebih 90 tahun yaitu 661-750 M. Ibu kota negara dipindahkan Muawiyah dari Madinah ke Damaskus, tempat ia berkuasa sebagai gubernur sebelumnya.3 Dinasti Umayyah selama pemerintahannya telah terjadi pergantian sebanyak 14 orang khalifah. Mereka adalah Muawiyah (ibn Abi Sufyan) (661- 680 M), Yazid I (ibn Muawiyah) (680-683 M), Muawiyah II (ibn Yazid) (683 M), Marwan I (ibn Hakam) (684-685 M), Abdul Malik (ibn Marwan) (685-705 M), al-Walid I (ibn Abdul Malik) (705-715 M), Sulaiman (ibn Abdul Malik) (715-717 M), Umar II (ibn Abdul Aziz) (717-720 M), Yazid II (ibn Abdul Malik) (720-724 M), Hisyam (ibn Abdul Malik) (724-743 M), al-Walid (ibn Yazid) (743-744 M), Yazid III (ibn al-Walid) (744-744 M), Ibrahim (ibn al-Walid) (744- 744 M), dan Marwan II (ibn Muhammad) (744-750 M).4 Sejarawan pada umumnya memandang negatif terhadap Muawiyah. Keberhasilannya memperoleh legalitas atas kekuasaannya dalam perang saudara di Shiffin dicapai melalui cara arbitrasi yang curang. Lebih dari itu, Muawiyah juga dituduh sebagai pengkhianat prinsipprinsip demokrasi yang diajarkan Islam, karena dialah yang mengubah pimpinan Negara dari seorang yang dipilih oleh rakyat menjadi kekuasaan raja yang diwariskan turun temurun. Di atas segala-galanya bila dilihat dari sikap dan prestasi politiknya yang menakjubkan. sesungguhnya Muawiyah adalah seorang pribadi paripurna dan pemimpin besar yang berbakat. Di dalam dirinya terkumpul sifat-sifat seorang penguasa, politikus, dan administrator.
Capaian Peradaban
Sistem Pemerintahan
Ketika memasuki masa kekuasaan Muawiyah yang menjadi awal kekuasaan Bani Umayyah, pemerintahan yang bersifat demokratis berubah menjadi monarchiheridetis. Kekhalifahan Muawiyah diperoleh melalui kekerasan, diplomasi, dan tipu daya, tidak dengan pemilihan atau suara terbanyak. Suksesi kepemimpinan secara turun temurun dimulai ketika Muawiyah mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya, Yazid. Muawiyah bermaksud mencontoh monarchi di Persia dan Bizantium. Dia memang tetap menggunakan istilah khalifah, namun dia memberikan interpretasi baru dari kata-kata itu untuk mengagungkan jabatan tersebut. Dia menyebutnya “khalifah Allah” dalam pengertian “penguasa” yang diangkat oleh Allah.6 Selama masa pemerintahan Khulafa’ al-Rasyidin, khalifah dipilih oleh para pemuka dan tokoh di Madinah, kemudian dilanjutkan dengan bai’at (sumpah setia) oleh seluruh pemuka Arab. Tradisi ini diubah oleh pemerintahan dinasti Umayyah. Sejak Muawiyah mengambil alih kekuasaan dari Ali, khalifahkhalifah Umayyah mengestafetkan kekuasaannya dengan cara menunjuk penggantinya dan para pemuka agama diperintahkan menyatakan sumpah setia di hadapan khalifah.7 Abdul Malik mengadakan pembaruan, di antaranya ia adalah khalifah yang pertama kali menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa resmi negara.
Ekspansi (Perluasan Islam)
Ekspansi ke Barat secara besarbesaran dilanjutkan di zaman al-Walid ibn Abdul Malik. Masa pemerintahan al-Walid adalah masa ketenteraman, kemakmuran dan ketertiban. Umat Islam merasa hidup bahagia. Pada masa pemerintahannya yang berjalan kurang lebih sepuluh tahun, tercatat suatu ekspedisi militer dari Afrika Utara menuju wilayah Barat Daya, benua Eropa, yaitu pada tahun 711 M. setelah Al-Jazair dan Maroko dapat ditundukkan, Tariq bin Ziyad, pemimpin pasukan Islam, dengan pasukannya menyeberangi selat yang memisahkan antara Maroko dengan benua Eropa, dan mendarat di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Tariq). Tentara Spanyol dapat dikalahkan. Dengan demikian, Spanyol menjadi sasaran ekspansi selanjutnya. Ibu kota Spanyol, Kordova, dengan cepat dapat dikuasai. Menyusul setelah itu kota-kota lain seperti Seville, Elvira, dan Toledo yang dijadikan ibu kota Spanyol yang baru setelah jatuhnya Kordova. Pasukan Islam memperoleh kemenangan dengan mudah karena mendapat dukungan dari rakyat setempat yang sejak penguasa.
Perkembangan Politik
Bidang politik yang disusun pada tata pemerintahan Bani Umayah adalah tata pemerintahan yang sama sekali baru, untuk memenuhi perkembangan wilayah dan administrasi kenegaraan yang semakin kompleks. Selain mengangkat Majelis Penasehat sebagai pendamping, Khalifah Bani Umayah dibantu oleh beberapa orang “alKuttab” (secretaries) untuk membantu pelaksanaan tugas, yaitu seperti yang dikutip Ali Mufrodi dalam Joesoef Soe’yb yang meliputi:
a) Katib ar-Rasail: sekretaris yang bertugas menyelenggarakan administrasi dan surat menyurat dengan pembesar-pembesar setempat.
b) Katib al-Kharraj: sekretaris yang bertugas menyelenggarakan penerimaan dan pengeluaran negara
c) Katib al-Jundi: sekretaris yang bertugas menyelenggarakan hal-hal yang berkaitan dengan ketentaraan.
d) Katib al-Syurtah: sekretaris yang bertugas menyelenggarakan pemeliharaan keamanan dan ketertiban umum.
e) Katib al-Qudat: sekretaris yang bertugas menyelengarakan tertib hukum melalui badan-badan peradilan dan hakim setempat.
Meskipun keberhasilan banyak dicapai dinasti ini, tapi tidak berarti bahwa politik dalam negeri dapat dianggap stabil. Pemberontakan terhadap penguasa mulai terjadi, seperti munculnya gerakan Syi’ah, pemberontakan Abdullah ibn Zubair, gerakan Khawarij, Mu’tazilah, Jabariah, dan Murjiah. Namun, hubungan pemerintah dengan golongan oposisi membaik pada masa pemerintahan khalifah Umar ibn Abd al-Aziz (717- 720 M).
Perkembangan Sosial-Budaya Ekonomi
Dalam hal lapangan sosial budaya, Bani Umayyah telah membuka terjaTsaqofah & Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol. 5 No. 1 Januari-Juni 2020 dinya kontak antara bangsa-bangsa Muslim (Arab) dengan negeri-negeri taklukan yang terkenal memiliki tradisi yang luhur seperti Persia, Mesir, Eropa, dan sebagainya. Hubungan itu lalu melahirkan kreativitas baru yang menakjubkan di bidang seni dan ilmu pengetahuan. Di lapangan seni, terutama seni bangun (arsitektur), Bani Umayah mencatat suatu pencapaian yang adiluhung, seperti dome of the Rock (Qubah asShakhra) di Yerusalem pada masa khalifah Abd al-Malik. Di samping itu, ia membangun banyak masjid dan istana serta bangunan-bangunan yang indah.17 Perhatian terhadap seni sastra juga meningkat di zaman ini, terbukti dengan lahirnya tokoh-tokoh besar seperti al-Ahtal, Farazdaq, Jurair, dan lain-lain.18 Al-Walid ibn Abd Malik melakukan perbaikan-perbaikan dalam negeri seperti, mengumpulkan anak yatim dengan memberikan jaminan hidup serta disediakannya para pendidik untuk mereka. Pelayanan khusus untuk orang yang cacat, orang yang buta disediakan pula penuntun. Orang-orang itu semua diberinya gaji yang teratur. Al-Walid juga mencurahkan perhatiannya terhadap kemakmuran rakyat. Dibangunnya jalan raya, digalinya sumur-sumur di sepanjang jalan itu, dan diangkatnya pegawai-pegawai yang bertugas mengurusi sumursumur itu, serta menyediakan air untuk orang-orang yang melalui jalan itu. Masa pemerintahan alWalid pada umumnya dapat disebut masa kemakmuran, keamanan, dan ketenteraman.

PERKEMBANGAN PENDIDIKAN PADA MASA BANI ABBASIYYAH
PENDAHULUAN

Khilafah Abbasiyah merupakan kelanjutan dari khilafah sebelumnya dari Bani Umayyah, dimana pendiri dari khilafah ini adalah Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas Rahimahullah. Pola pemerintahan yang diterapkan oleh Daulah Abbasiyah berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) s/d. 656 H (1258 M).
Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Daulah Abbas menjadi lima periode:
    1. Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Arab dan Persia pertama.
     2. Periode Kedua (232 H/847 M – 334 H/945 M), disebut periode pengaruh Turki pertama.
     3. Periode Ketiga (334 H/945 M – 447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Bani Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.
     4. Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/l194 M), masa kekuasaan daulah Bani Seljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua (di bawah kendali) Kesultanan Seljuk Raya (salajiqah al-Kubra/Seljuk agung).
     5. Periode Kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Baghdad dan diakhiri oleh invasi dari bangsa Mongol.

Sejarah Perkembangan Pendidikan Islam Pada Masa Bani Abbasyiyah

Pada masa sepuluh Khalifah pertama Bani Abbasyiyah, puncak pencapaian kemajuan peradaban Islam terjadi pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid (786-809 M). Harun Al-Rasyid adalah figur khalifah shaleh ahli ibadah, senang bershadaqah, sangat mencintai ilmu sekaligus mencintai para ‘ulama, senang dikritik serta sangat merindukan nasihat terutama dari para ‘ulama. Pada masa pemerintahannya dilakukan sebuah gerakan penerjemahan berbagai buku Yunani dengan menggaji para penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lainnya yang ahli. Ia juga banyak mendirikan sekolah, yang salah satu karya besarnya adalah pembangunan Baitul Hikmah, sebagai pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan sebuah universitas, karena di samping terdapat kitab-kitab, di sana orang juga dapat membaca, menulis dan berdiskusi.
Harun Al-Rasyid juga menggunakan kekayaan yang banyak untuk dimanfaatkan bagi keperluan sosial. Rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan farmasi didirikan. Pada masanya sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter. Disamping itu, pemandian-pemandian umum juga dibangun. Kesejahteraan, sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat yang tak tertandingi.

Tokoh-tokoh Pendidikan Islam Pada Masa Bani Abbasyiyah

Beberapa ilmuwan muslim lainnya pada masa Daulat Abbasiyah yang karyanya diakui dunia diantaranya:
·  Al-Razi (guru Ibnu Sina), berkarya dibidang kimia dan kedokteran, menghasilkan 224 judul buku, 140 buku tentang pengobatan, diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin. Bukunya yang paling masyhur adalah Al-Hawi Fi ‘Ilm At Tadawi (30 jilid, berisi tentang jenis-jenis penyakit dan upaya penyembuhannya). Buku-bukunya menjadi bahan rujukan serta panduan dokter di seluruh Eropa hingga abad 17. Al-Razi adalah tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles. Dia juga orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak. Sesudahnya, ilmu kedokteraan berada di tangan Ibnu Sina.
·  Al-Battani (Al-Batenius), seorang astronom. Hasil perhitungannya tentang bumi mengelilingi pusat tata surya dalam waktu 365 hari, 5 jam, 46 menit, 24 detik, mendekati akurat. Buku yang paling terkenal adalah Kitab Al Zij dalam bahasa latin: De Scienta Stellerum u De Numeris Stellerumet Motibus, dimana terjemahan tertua dari karyanya masih ada di Vatikan.
·  Al Ya’qubi, seorang ahli geografi, sejarawan dan pengembara. Buku tertua dalam sejarah ilmu geografi berjudul Al Buldan (891), yang diterbitkan kembali oleh Belanda dengan judul Ibn Waddih qui dicitur al-Ya’qubi historiae.
·  Al Buzjani (Abul Wafa). Ia mengembangkan beberapa teori penting di bidang matematika (geometri dan trigonometri).
Pencapaian kemajuan dunia Islam pada bidang ilmu pengetahuan tidak terlepas dari adanya sikap terbuka dari pemerintahan Islam pada saat itu terhadap berbagai budaya dari bangsa-bangsa sebelumnya seperti Yunani, Persia, India dan yang lainnya. Gerakan penterjemahan yang dilakukan sejak Khalifah Al-Mansur (745-775 M) hingga Harun Al-Rasyid berimplikasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan umum, terutama di bidang astronomi, kedokteran, filsafat, kimia, farmasi, biologi, fisika dan sejarah. Diantara tokoh-tokoh Islam dalam ilmu pengetahuan, antara lain:
a. Bidang filsafat: al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Bajah, Ibnu Tufail, Ibnu Sina, al-
Ghazali,Ibnu Rusyid.
b.   Bidang kedokteran: Jabir ibnu Hayan , Hunain bin Ishaq, Tabib bin Qurra ,Ar-Razi.
c.   Bidang Matematika: Umar al-Farukhan , al-Khawarizmi.
d.   Bidang astronomi: al-Fazari, al-Battani, Abul watak, al-Farghoni dan sebagainya.

Dari hasil ijtihad dan semangat riset, maka para ahli pengetahuan, para alim ulama,
berhasil menemukan berbagai keahlian berupa penemuan berbagai bidang-bidang ilmu
pengetahuan, antara lain :

  1. Ilmu Umum
    a. Ilmu Filsafat
    1)    Al-Kindi (809-873 M) buku karangannya sebanyak 236 judul.
    2)    Al Farabi (wafat tahun 916 M) dalam usia 80 tahun.     
    3)    Ibnu Bajah (wafat tahun 523 H)
    4)    Ibnu Thufail (wafat tahun 581 H)
    5)    Ibnu Shina (980-1037 M). Karangan-karangan yang terkenal antara lain: Shafa, Najat, Qoman, Saddiya dan lain-lain
    6)    Al Ghazali (1085-1101 M). Dikenal sebagai Hujjatul Islam, karangannya: Al
    Munqizh Minadl-Dlalal,Tahafutul Falasifah,Mizanul Amal,Ihya Ulumuddin dan lainlain
    7)    Ibnu Rusd (1126-1198 M). Karangannya : Kulliyaat, Tafsir Urjuza, Kasful Afillah dan lain-lain
    b. Bidang Kedokteran
    1)      Jabir bin Hayyan (wafat 778 M). Dikenal sebagai bapak Kimia.
    2)      Hurain bin Ishaq (810-878 M). Ahli mata yang terkenal disamping sebagai
    penterjemah bahasa asing.
    3)      Thabib bin Qurra (836-901 M)
    4)      Ar Razi atau Razes (809-873 M). Karangan yang terkenal mengenai cacar dan
    campak yang diterjemahkan dalam bahasa latin.
    c. Bidang Matematika
    1)    Umar Al Farukhan: Insinyur Arsitek Pembangunan kota Baghdad.
    2)    Al Khawarizmi: Pengarang kitab Al Gebra (Al Jabar), penemu angka (0).
    d. Bidang Astronomi
    Berkembang subur di kalangan umat Islam, sehingga banyak para ahli yang terkenal
    dalam perbintangan ini seperti :
    1)    Al Farazi : pencipta Astro lobe
    2)    Al Gattani/Al Betagnius
    3)    Abul wafat : menemukan jalan ketiga dari bulan
    4)    Al Farghoni atau Al Fragenius
    e. Bidang Seni Ukir
    Beberapa seniman ukir terkenal: Badr dan Tariff (961-976 M) dan ada seni musik,
    seni tari, seni pahat, seni sulam, seni lukis dan seni bangunan.
  2. Ilmu Naqli
    a.    Ilmu Tafsir. Para mufassirin yang termasyur: Ibnu Jarir ath Tabary, Ibnu Athiyah al Andalusy (wafat 147 H), As Suda, Mupatil bin Sulaiman (wafat 150 H), Muhammad bin Ishak dan lain-lain
    b.    Ilmu Hadist. Muncullah ahli-ahli hadist ternama seperti: Imam Bukhori (194-256H), Imam Muslim (wafat 231 H), Ibnu Majah (wafat 273 H),Abu Daud (wafat 275 H),At Tarmidzi, dan lain-lain
    c.     Ilmu Kalam. Dalam kenyataannya kaum Mu’tazilah berjasa besar dalam menciptakan ilmu kalam, diantaranya para pelopor itu adalah: Wasil bin Atha’, Abu Huzail al Allaf, Adh Dhaam, Abu Hasan Asy’ary, Hujjatul Islam Imam Ghazali
    d.    Ilmu Tasawuf. Ahli-ahli dan ulama-ulamanya adalah : Al Qusyairy (wafat 465H). Karangannya : ar Risalatul Qusyairiyah, Syahabuddin (wafat 632 H). Karangannya: Awariful Ma’arif, Imam Ghazali : Karangannya al Bashut, al Wajiz dan lain-lain.
    e.    Para Imam Fuqaha. Lahirlah para Fuqaha yang sampai sekarang aliran mereka masih mendapat tempat yang luas dalam masyarakat Islam. Yang mengembangkan
    faham/mazhabnya dalam zaman ini adalah: Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam
    Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal dan Para Imam Syi’ah (Hasjmy, 1995:276-278).

Lembaga-lembaga Pendidikan Islam Pada Masa Bani Abbasyiyah

Perkembangan peradaban pada masa daulah Bani Abbasiyah sangat maju pesat, karena upaya upaya dilakukan oleh para Khalifah di bidang fisik. Hal ini dapat kita lihat dari bangunan –bangunan yang berupa:

a.    Kuttab, yaitu tempat belajar dalam tingkatan pendidikan rendah dan menengah.
b. Majlis Muhadharah, yaitu tempat pertemuan para ulama, sarjana,ahli pikir dan
pujangga untuk membahas masalah-masalah ilmiah.
c.    Darul Hikmah, adalah perpustakaan yang didirikan oleh Harun Ar-Rasyid. Ini
merupakan perpustakaan terbesar yang di dalamnya juga disediakan tempat ruangan
belajar.
d.    Madrasah, Perdana menteri Nidhomul Mulk adalah orang yang mula-mula mendirikan
sekolah dalam bentuk yang ada sampai sekarang ini, dengan nama Madrasah.
e.    Masjid, biasanya dipakai untuk pendidikan tinggi dan tahassus.

Pada masa Daulah Bani Abbassiyah, peradaban di bidang fisik seperti kehidupan
ekonomi: pertanian, perindustrian, perdagangan berhasil dikembangkan oleh Khalifah
Mansyur.

Lembaga-lembaga Pendidikan Sebelum Madrasah

Adapun lembaga-lembaga pendidikan islam yang sebelum kebangkitan madrasah pada masa klasik, adalah:

  1. Suffah
    Pada masa Rasulullah SAW, suffah adalah suatu tempat yang dipakai untuk aktivitas pendidikan biasanya tempat ini menyediakan pemondokan bagi pendatang baru dan mereka yang tergolong miskin disini para siswa diajari membaca dan menghafal al-qur’an secara benar dan hukum islam dibawah bimbingan langsung dari Nabi, dalam perkembangan berikutnya, sekolah shuffah juga menawarkan pelajaran dasar-dasar menghitung, kedokteran, astronomi, geneologi dan ilmu filsafat.
  2. Kuttab atau maktab.
    Kuttab atau maktab berasal dari kata dasar yang sama, yaitu kataba yang artinya menulis. Sedangkan kuttab atau maktab berarti tempat untuk menulis atau tempat dimana dilangsungkan kegiatan tulis menulis.
    Dengan adanya perubahan kurikulum tersebut dapat dikatakan bahwa kuttab pada awal perkembangan merupakan lembaga pendidikan yang tertutup dan setelah adanya persentuhan dengan peradaban helenisme menjadi lembaga pendidikan yang terbuka terhadap pengetahuan umum, termasuk filsafat.
  3. Halaqah.
    Halaqah artinya lingkaran. Artinya proses belajar mengajar disini dilaksanakan dimana murid dan meringkari gurunya. Seorang guru biasanya duduk dilantai menerangkan, membacakan karangannya, atau memberikan komentar atas karya pemikiran orang lain. Kegiatan di halaqah ini tidak khusus untuk megajarkan atau mendiskusikan ilmu agama, tetapi juga ilmu pengetahuan umum, termasuk filsafat.
  4. Majlis.
    Istilah majlis telah dipakai dalam pendidikan sejak abad pertama islam, mulanya ia merujuk pada arti tempat-tempat pelaksanakan belajar mengajar. Seiring dengan perkembangan pengetahuan dalam islam, majlis digunakan sebagai kegiatan transfer ilmu pengetahuan sebagai majlis banyak ragamnya, menurut Muniruddin Ahmad ada 7 (tujuh) macam majlis, diantaranya: Majlis al-hadits, Majlis al-tadris, Majlis al-manazharah, Majlis muzakarah, Majlis al-syu’ara, Majlis al-adab, Majlis al-fatwa dan al-nazar.
  5. Masjid
    Semenjak berdirinya di zaman Nabi SAW, masjid telah menjadi pusat kegiatan dan informasi berbagai masalah kaum muslimin, baik yang menyangkut pendidikan maupun sosial ekonomi. Namun, yang lebih penting adalah sebagai lembaga pendidikan.
    Kurikulum pendidikan dimasjid biasanya merupakan tumpuan pemerintah untuk memperoleh pejabat-penjabat pemerintah, seperti, qodhi, khotib dan iman masjid.
  6. Khan
    Khan biasanya difungsikan sebagai penyimpanan barang-barang dalam jumlah besar atau sebagai sarana komersial yang memiliki banyak toko, seperti, khan al narsi yang berlokasi di alun-alun karkh di bagdad.
  7. Ribarth
    Ribath adalah tempat kegiatan kaum sufi yang ingin menjauhkan diri dari kehidupan duniawi dan mengkonsentrasikan diri untuk semata-mata ibadah.
  8. Rumah – Ulama
    Rumah sebenarnya bukan tempat yang nyaman untuk kegiatan belajar mengajar, namun para ulama dizaman klasik banyak yang mempergunakan rumahnya secara ikhlas untuk kegiatan belajar mengajar dan pengembangan ilmu pengetahuan.
  9. Toko-toko buku dan perpustakaan
    Toko-toko buku memiliki peranan penting dalam kegiatan keilmuan islam, pada awalnya memang hanya manjual buku-buku, tetapi berikutnya menjadi sarana untuk berdiskusi dan berdebat, bahkan pertemuan rutin sering dirancang dan dilaksanakan disitu. Disamping tokobuku, perpustakan juga memilki peranan penting dalam kegiatan transfer keilmuan islam.
  10. Rumah sakit
    Rumah sakit pada zaman klasik bukan saja berfungsi sebagai tempat merawat dan mengobati orang-orang sakit, tetapi juga mendidik tenaga-tenaga yang berhungan dengan perawatan dan pengobatan. Pada masa itu, percabaan dalam bidang kedokteran dan obat-oibatan dilaksanakan sehingga ilmu kedoteran dan obat-obatan cukup pesat.
    Rumah sakit juga merupan tempat praktikum sekolah kedoteran yang didirikan diluar rumah sakit, rumah sakit juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan .
  11. Badiah (padang pasir, dusun tempat tinggal badui)
    Badiah merupakan sumber bahasa arab yang asli dan murni, dan mereka tetap mempertahankan keaslian dan kemurnian bahasa arab. Oleh karena itu badiah-badiah menjadi pusat untuk pelajaran bahasa arab yang asli dan murni. Sehingga banyak anak-anak khulifah, ulama-ulama dan para ahli ilmu pengetahuan pergi ke badiah-badiah dalam rangka mempelajari bahasa dan kesusastraan arab. Dengan begitu badiah-badiah telah berfungsi sebagai lembaga pendidikan.

Kurikulum Pendidikan Islam Pada Masa Bani Abbasyiyah

Kurikulum yang dikembangkan dalam pendidikan Islam saat itu, yaitu :
a.       kurikulum pendidikan tingkat dasar yang terdiri dari pelajaran membaca, menulis, tata bahasa, hadist, prinsip-prinsip dasar Matematika dan pelajaran syair. Ada juga yang menambahnya dengan mata pelajaran nahwu dan cerita-cerita. Ada juga kurikulum yang dikembangkan sebatas menghapal Al-Quran dan mengkaji dasar-dasar pokok agama.
Berikut sebuah riwayat yang bisa memberikan gambaran tentang kurikulum pendidikan pada tingkat dasar pada saat itu. Al Mufadhal bin Yazid menceritakan bahwa pada suatu hari ia berjumpa seorang anak-anak laki dari seorang baduwi. Karena merasa tertarik dengan anak itu, kemudian ia bertanya pada ibunya. Ibunya berkata kepada Yazid: “…apabila ia sudah berusia lima tahun saya akan menyerahkannya kepada seorang muaddib (guru), yang akan mengajarkannya menghapal dan membaca Al-Quran lalu dia akan mengajarkannya syair. Dan apabila dia sudah dewasa, saya akan menyuruh orang mengajarinya naik kuda dan memanggul senjata kemudian dia akan mondar-mandir di lorong-lorong kampungnya untuk mendengarkan suara orang-orang yang minta pertolongan…”.
b.      kurikulum pendidikan tinggi. Pada pendidikan tinggi, kurikulum sejalan dengan fase dimana dunia Islam mempersiapkan diri untuk memperdalam masalah agama, menyiarkan dan mempertahankannya. Akan tetapi bukan berarti pada saat itu, yang diajarkan melulu agama, karena ilmu yang erat kaitannya dengan agama seperti bahasa, sejarah, tafsir dan hadis juga diajarkan.

Kurikulum Pendidikan Islam Sebelum Berdirinya Madrasah.
Kurikulum pendidikan rendah
Sebelum berdirinya madrasah, tidak ada tingkatan dalam pendidikan islam, tetapi hanya satu tingkat yang bermula dikuttab dan berakhir didiskusi halaqah. Tidak ada kurikulum khusus yang diikuti oleh seluruh umat islam, dilembaga kuttab biasanya diajarkan membaca dan menulis disamping al-qur’an, kadang diajarkan bahasa nahwu dan arudh. Sedangkan kurikulum yang ditawarkan oleh Ibnu Sina untuk tingkat ini adalah mengajari al-qur’an, karena anak-anak dari segi fisik dan mental telah siap menerima pendiktean.
Kurikulum pendidikan tinggi.
Kurikulum pendidikan tinggi, berpariasi tergantung pada syaikh yang mau mengajar para mahasiswa tidak terikat untuk mempelajari mata pelajaran tertentu, demikian juga guru tidak mewajibkan kepada mahasiswa untuk mengikuti kurikulum tertentu. Kurikulum pendidikan tingkat ini dibagi kepada dua jurusan, jurusan ilmu-ilmu agama dan jurusan ilmu pengetahuan.
Al-Khuwarazmi (Yusuf al-kutub, tahun 976) meringkas kurikulum agama sebagai berikut: Ilmu Fiqih, ilmu nahwu, ilmu kalam, ilmu kitabah (sekretaris), ilmu arudh, dan lain-lain.
Ikhwan Al-Ahafa mengklasifikasikan ilmu-ilmu umum kepada:
1) Disiplin-disiplin umum: tulis baca, arti baca gramatika, ilmu hitung, satra, ilmu tentang tanda dan isyarat, ilmu sihir, jimat, kimia, sulap, dagang, dan sebagainya.
2) Ilmu-ilmu filosofis: matematika, logika, ilmu angka-angka, geometri, astronomi, musik, aritmatika dan hukum-hukum geometri, dan sebagainya.
     

Kurikulum setelah berdirinya madrasah.
Berdirinya madrasah, pada satu sisi, merupakan sumbangan islam bagi peradaban sesudahnya, tapi pada sisi lain membawa dampak yang buruk bagi dunia pendidikan setelah hegomoni negara terlalu kuat terhadap madrasah ini. Akibatnya kurikulum madrasah ini dibatasi hanya pada wilayah hukum (fiqih) dan teologi. ”pemakruhan” penggunaan nalar setelah runtuhnya Mu’tazilah, ilmu-ilmu profan yang sangat dicurigai dihapus dari kurikulum madrasah, mereka yang punya minat besar terhadap ilmu-ilmu ini terpaksa belajar sendiri-sendiri. Karenanya ilmu-ilmu profan banyak berkembang di lembaga nonformal.
Pada masa Abbasiyah sekolah-sekolah terdiri dari beberapa tingkat, yaitu:
Tingkat sekolah rendah, namanya Kuttab sebagai tempat belajar bagi anak-anak. Di samping Kuttab ada pula anak-anak belajar di rumah, di istana, di took-toko dan di pinggir-pinggir pasar. Adapun pelajaran yang diajarkan meliputi: membaca Al-Qur’an dan menghafalnya, pokok-pokok ajaran islam, menulis, kisah orang-orang besar islam, membaca dan menghafal syair-syair atau prosa, berhitung, dan juga pokok-pokok nahwu shorof ala kadarnya.
Tingkat sekolah menengah, yaitu di masjid dan majelis sastra dan ilmu pengetahuan sebagai sambungan pelajaran di kuttab. Adapun pelajaran yang diajarkan melipuri: Al-Qur’an, bahasa Arab, Fiqih, Tafsir, Hadits, Nahwu, Shorof, Balaghoh, ilmu pasti, Mantiq, Falak, Sejarah, ilmu alam, kedokteran, dan juga music.
Tingkat perguruan tinggi, seperti Baitul Hikmah di Bagdad dan Darul Ilmu di Mesir (Kairo), di masjid dan lain-lain. Pada tingkatan ini umumnya perguruan tinggi terdiri dari dua jurusan:

KESIMPULAN
Pada masa bani Abbasyiyah, pendidikan islam sangat berkembang pesat terutama pada masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid. Pada masa pemerintahannya, banyak bermunculan pemikiran-pemikiran baru yang berhubungan dengan ilmu agama dan ilmu umum. Dan juga bermunculah tokoh-tokoh pendidikan islam yang sangat berpengaruh dalam mengembangkan pendidikan agama maupun pendidikan umum.
Pada masa pemerintaha Ar-Rasyid banyak dibangun lembaga-lembaga pendidikan seperti Suffah, kuttab/maktab, halaqoh, majlis, masjid, khan, ribbat, rumah – ulama, rumah sakit, toko buku – perpustakaan, dan badiah. Juga yang sampai saat ini masih dipergunakan oleh para pelajar untuk belajar pendidikan umum dan agama, yaitu Madrasah.
Referensi:
http://szoebaidah.blogspot.com/2012/10/pendidikan-islam-pada-masa bani.html#!/2012/10/pendidikan-islam-pada-masa-bani.html

Tinggalkan Komentar